Pindah Kerja – Perjalanan Menyusur Waktu

artikel ini diambil dari Ki Ageng Similikithi – Manila, Filipina

Saya sedang di Kuala Lumpur minggu lalu ketika sebuah pesan singkat masuk. Dari anak saya kedua, Nunu. Sangat jarang dia kirim pesan singkat. Isinya ringkas “Hi pak, saya sudah resign dan pasti berangkat dua minggu lagi”. Saya agak gagap. Beberapa waktu memang sering bilang pengin pindah kerja, tetapi saya pikir tidak serius.

Selama enam tahun terakhir ini dia bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di tanah air. Karier bagus. Penghasilan mantap. Kebutuhan keluarga tercukupi. Namun dia toh memutuskan untuk bergabung dengan satu perusahaan internasional untuk meniti karier. Ditempatkan di salah satu negara di Timur Tengah.  Sebenarnya berat dia meninggalkan pekerjaan sekarang. Yang membuat dia memutuskan meninggalkan pekerjaan sekarang karena dia diterima langsung sebagai staf tetap senior engineer..Tak merayap lagi dari bawah. Ini kesempatan terakhir karena dua kali sebelumnya dia telah membatalkan keputusan di tahap akhir. Kesempatan itu tak mungkin datang lagi. 

Lain dengan saya yang gagap akan keputusan secepat itu, NYI malah mendukung sepenuhnya. Kapan lagi, mumpung masih muda katanya. Jangan membuat keputusan terlambat. Nunu memang masih muda. Umurnya baru menginjak tiga puluh tahun. Anak dua masih kecil kecil. Perjalanan kariernya masih panjang. Bagi saya memutuskan untuk memilih dan berganti pekerjaan, adalah keputusan besar dalam hidup. Mungkin seperti membuat keputusan untuk kawin. Pekerjaan adalah bagian dari perjalanan hidup. Sesuatu yang sakral dan harus terencana sejak awal. Perjalanan panjang menyusur waktu
 
Saya ingat sewaktu teman teman lulusan seangkatan di pertengahan tahun tujuh puluhan semuanya sudah mantap dengan pekerjaan tetap masing masing, sebagian besar berkarya sebagai dokter di Puskesmas, saya masih sabar menunggu pengangkatan sebagai asisten dosen di perguruan tinggi. Waktu itu profesi dokter Puskesmas sangat popuker dan dibanggakan masyarakat. Namun saya sejak awal pengin jadi peneliti dan pengajar. Walaupun harus menunggu sampai dua tahun untuk pengangkatan sebagai asisten dengan gaji sangat minim. Namun itu tak pernah mengecilkan semangat saya untuk berkarya. Meskipun harus lari kesana kemari dengan praktek pribadi untuk menutup kebutuhan hidup sehari hari.
 
Ketika saya memperoleh peluang beasiswa Rockefeller untuk menempuh program doktor, tak bisa saya gambarkan kebahagiaan waktu itu. Meskipun awalnya harus pisah dengan isteri dan anak anak yang masih kecil. Inilah Jalan ke Barat yang saya impikan sejak kecil. Juga ketika lulus doktor, saya cepat cepat pengin kembali ke alma mater dan mengembangkan laboratorium yang saya impikan. Walaupun NYI masih ingin kami tinggal lebih lama di UK oleh karena bea siswanya masih sisa dua tahun. Saya tak pernah tergiur dan mimpi pindah ke lembaga penelitian atau ke luar negeri, walaupun sarana penelitian waktu itu sangatlah minim. Harus mengembangkan dari nol. Tetapi saya tak berkecil hati karena sebelumnya menyadari memang itulah kondisinya. Tak bisa menuntut lebih. Naif untuk mengharapkan semua sarana penelitian lengkap seperti di Eropa. Toh akhirnya saya berhasil mengembangkan laboratorium saya dengan grant dan kerja sama penelitian, dan akhirnya bisa diakui menjadi Collaborating Centre untuk lembaga UN terkemuka. Satu satunya di tanah air dan di Asia untuk bidang saya.
 
Kesempatan emas untuk pindah kerjaan dengan sistem karier dan sistem insentif lebih baik batang beberapa kali. Tetapi mantap keinginan untuk bekerja di bidang yang saya tekuni di tanah air dan berkecimpung di di skala global, tak pernah terlintas keinginan untuk pindah.  
 
Namun di pertengahan umur empat puluhan saya menyadari ada sesuatu yang tak benar dalam perjalanan saya. Ternyata selama enam belas tahun saya tak pernah naik pangkat. Tak enak sebenarnya mengeluarkan keluhan atau uneg uneg di sini. Ada kekecewaan yang dalam  oleh karena apa yang saya lakukan untuk alma mater dan tanah air sama sekali tidak mendapat pengakuan wajar. Saya tak mengharap sesuatu yang istimewa. Tetapi kalau kenaikan pangkat terganjal selama enam belas tahun, ini sudah merupakan kekagalan sistem. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan lembaga yang saya cintai dengan sangat berat. Tawaran yang saya terima sangatlah menyentuh. Bukan tawaran insentif bagi saya. Tetapi tantangan baru untuk mengembangkan strategi meningkatkan keterjangkauan dan ketersediaan obat untuk kalangan segmen bawah, dengan bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga lembaga partner. Cakupan daerah kerja saya sangatlah luas dan sangat menantang. Mulai dari daerah daerah terpencil di gurun Asia Tengah, pulau pulau kecil di Pasifik dan pedalaman terpencil di Mekong.
 
Anak saya Nunu mengambil keputusan cepat. Dia merasa kariernya tak berjalan seperti yang diharapkan. Mungkin ada ganjalan dalam dinamika kelompok di tempatnya bekerja. Bukan semata mata karena insentip dan penghasilan. Dia mungkin mengambil pelajaran dari saya. Tak perlu menunggu keadaan membaik dengan sendirinya. Menunggu sesuatu yang tak akan datang. Enam belas tahun lembaga saya gagal menilai apa yang telah saya lakukan. Terjebak dalam mekanisme kelompok yang emosional. Kepercayaan publik yang diberikan kepada lembaga penelitian dan pendidikan tinggi, banyak disalah manfaatkan oleh mereka mereka yang berpangkat tinggi dan mendapat hak untuk menilai. Wewenang hampir tanpa batas, tanpa kendali dan tanpa pembanding. Ini adalah contoh kegagalan intelektual lembaga lembaga ilmiah di tanah air, yang harus diperbaiki jika ingin bersaing di skala global.
 
Ada banyak alsan mengapa orang meninggalkan pekerjaan yang dicintai. Mungkin karena insentip, mungkin karena perjalanan karier profesi, mungkin karena dinamika dan lingkungan kerja yang tak kondusif lagi. Semua orang punya alasan masing masing. Sah sah saja. Tetapi saya tak pernah kecewa meninggalkan pekerjaan saya dulu di lembaga pendidikan tinggi, juga tak kecewa akan keterlambatan saya mengambil keputusan. Tak ada alasan untuk menyesal. Hanya suatu saat saya terkejut menerima pertanyaan seorang rekan, apakah ditempat baru anda, anda nggak merasa seperti menjadi orang buangan? Dia salah seorang staf lain fakultas dimana saya bekerja dulu. Pertanyaan bodoh yang tak perlu ditanggapi. Hanya mencerminkan keterbatasan jangkauan pikirannya semata.
 
Di tempat baru, kita bisa menilai secara arif sampai di mana perjalanan kita. Arah kedepan mana yang akan ditempuh. Bukan kembali lagi ke awal perjalanan. Kita hanya berjalan menyusur waktu ke arah depan.
 
Salam damai
 
Ki Ageng Similikithi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: