Falsafah Makanan

Bondan Winarno.

Sabtu pagi, Restoran Mandala di Santa, Kebayoran Baru, masih sepi. Hanya beberapa orang datang dan pergi membeli bubur ayam untuk dibawa pulang. Mandala memang terkenal dengan bubur ayamnya. Sambil menunggu pesanan dimasak, saya mengobrol dengan pemilik restoran yang juga merangkap sebagai kasir.

“Bapak pesan fumak cah bukan karena sedang berduka, ‘kan?” tanyanya.
Pertanyaan itu rupanya membuka percakapan serius yang menyenangkan.
“Apa hubungannya? ” tanya saya dengan penuh keingintahuan.
“Fu itu berarti pahit. Mak berarti sesuatu yang lembut,” katanya menjelaskan sayur fumak yang sedang saya pesan. “Pare, misalnya, yang juga pahit disebut fukua.”

Menurutnya, orang yang sedang berduka – misalnya karena kematian anggota keluarga yang disayangi – suka makan fukua dan fumak untuk menghayati kepahitan yang sedang dialaminya. “Karena itu kita juga tidak boleh menanam pare di lingkungan rumah, agar rumah kita terhindar dari kepahitan. Tanamlah di kebun yang tidak menjadi bagian dari rumah,” katanya.

Wah, ini falsafah yang menarik. Nyonya pemilik restoran itu ternyata bagai kamus berjalan. Dalam waktu 15 menit berikutnya, saya belajar falsafah makanan dari obrolannya yang santai.

Di kalangan warga Tionghoa, bila ada yang pindah rumah, biasanya kerabat dan kenalan datang dengan membawa sayur kailan dan tahu. Kailan melambangkan makna agar seorang membuang barang-barang yang sudah usang, dan hidup dengan barang-barang yang baru. Sedangkan tahu melambangkan harapan rezeki yang bagus dan berkesinambungan.

Buah tangan yang juga baik untuk menyambut rumah baru seorang teman atau kerabat adalah kue mangkok. “Kue mangkok itu mekar. Dengan kue mangkok itu kita ingin menyatakan harapan agar rezeki teman atau kerabat itu juga ikut mekar.”

Bakso juga sering merupakan bagian dari hidangan pada pesta-pesta perkawinan. Bentuk bakso yang bulat melambangkan bulatnya kesepakatan dalam rumah tangga yang akan dibina. “Supaya tidak sering cekcok, gitu.”

Di kalangan warga Tionghoa yang masih memegang tradisi, mereka juga sering membawa buah pak hap (semacam melinjo) di dalam saku bila sedang meminang seorang gadis untuk dinikahi. Pak hap berarti seratus tahun bersatu. Dengan demikian buah itu melambangkan keinginan untuk bersatu sepanjang abad dalam perkawinan yang bahagia.

“Ada pula yang membawa biji teratai ketika upacara meminang,” katanya. “Sekalipun di dalam lumpur, biji teratai tetap putih bersih. Ini melambangkan harapan agar kita semua tetap suci sekalipun dalam kondisi hidup yang sulit.” Yang jelas, harus ada permen dalam upacara perkawinan orang Tionghoa. Maknanya, agar hidup pasangan pengantin baru selalu manis bagai permen.

Dari obrolan santai itu saya juga belajar bahwa sebaiknya kita tidak membawa semangka bila mengunjungi warga Tionghoa yang sakit. Buah semangka disebut sikua dalam bahasa mereka. Si, selain berarti empat, juga berarti mati. “Kalau Anda membawa semangka, sama saja Anda mengharapkan si sakit cepat mati,” katanya. “Bawalah apel atau jeruk. Apel dalam bahasa Tionghoa disebut ping an yang juga berarti selamat. Maknanya, kita mendoakan si sakit beroleh keselamatan dan segera sembuh.”

Itu mengingatkan saya kepada cerita Cacuk Sudarijanto, Menteri Negara Restrukturisasi Ekonomi. Ketika baru saja diberhentikan sebagai Direktur Utama PT Telkom dulu, dalam satu penerbangan ia ditanyai umur oleh musafir yang duduk di sebelahnya. Ketika Cacuk menjawab bahwa umurnya 44 tahun, orang itu terperanjat. “Mohon Bapak jangan menyebut umur 44,” katanya memohon. “Bilang saja lewat 43 atau hampir 45.” Ternyata, 44 berarti mati dua kali. “Pantas saja Bapak dapat sial dipecat dari Telkom,” kata orang itu kepada Cacuk.

Tulisan ini memang tidak saya maksudkan untuk menghidupkan tahayul. Kita tidak perlu mempercayai kepercayaan atau gugon tuhon yang diajarkan para leluhur kita. Tetapi, setidaknya dengan mengenali makna lambang-lambang itu kita juga belajar memahami kedalaman falsafah yang dikembangkan para leluhur.

Dalam tradisi Jawa kita juga mengenal berbagai kawruh (pengetahuan) yang disangkutpautkan dengan makanan. Pada acara tumpengan untuk mendoakan keselamatan bayi yang baru lahir, biasanya ada urap sayur yang kacangpanjangnya dibiarkan utuh panjang-panjang. Itu untuk melambangkan harapan agar si bayi berumur panjang. Tumpeng untuk selamatan (wilujengan) mempunyai jenis nasi dan lauk-pauk yang berbeda untuk tiap kebutuhan. Misalnya, ada yang harus dengan nasi putih yang ditanak, tidak boleh diliwet. Ada yang harus memakai nasi kuning. Ada pula yang harus dilengkapi dengan daging sapi yang dimasak dengan bumbu manis. Semuanya diberi makna dan setiap makna mengandung harapan.

Tidak ada bedanya dengan menyampaikan buket kembang untuk menyatakan cinta, bukan? Mengapa cinta harus dilambangkan dengan kembang? Tidak cukupkah kita mengatakan saja bahwa kita mencintainya? Lambang, ternyata, adalah bagian dari kehalusan budi dan pikiran yang hanya dipunyai oleh manusia. Tidak perlu tahyul untuk menciptakan lambang. Dunia komputer saja penuh dengan ikon baru yang masing-masing mempunyai makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: